• aksi pelaku menghabisi hutan.(ist)
  • hutan semakin lebam ditangan pengusaha  hitam.(ist)
  • hutan korban mutilasi pengusaha hitam.(ist)

Ketika Hutan Menjadi Pasar Gelap Bagi Segelintir Orang...

Ketika Hutan Menjadi Pasar Gelap Bagi Segelintir Orang...

Sat, 11/07/2020 - 04:56
Posted in:
0 comments

Untuk mempertahankan dan menjaga kepentingan jangka panjang hutan-hutan di Indonesia, sudah sepatutnya bila para penggarap pembohong yang menjadikan hutan sebagai ladang subur pembalakan yang diberikan efek jera.

 

Kasusku. com, Jakarta - PESIMISME yang merebak di segala sektor kehidupan rupanya bertolak belakang dengan prestasi di bidang perlindungan alam. Kinerja pemerintah yang terus ditampilkan dan di tingkat kecamatan kurang mampu, ternyata meningkatkan kesejahteran dan kocek para perusak lingkungan, secara signifikan.

Prestasi kesejahteraan para perusak lingkungan, baik hutan dan eko sistem lainnya bisa dilihat dari berbagai bencana atau musibah diberbagai daerah di negeri ini. Di tengah kehidupan yang serba sulit, seharusnya citra lingkungan berikut ini bisa menjadi penyelamat penyelamat dimasa mendatang.

Bagi sekelompok orang, hutan berikut isinya bukan sekedar pelengkap penghijauan yang enak dipandang, tapi juga merupakan lumbung kehidupan hakiki. Karena itu, sangat beralasan ketika menjadi hutan menjadi pasar gelap bagi segelintir orang yang cukup menjanjikan dan banyak mengeduk keuntungan!

Sebagian kalangan yang menyatakan politik menganggap bahwa rusaknya hutan dan minimnya pelestarian lingkungan gejala gejala alam semesta. Tapi sejatinya kerusakan lingkungan berupa hutan kejahatan terencana yang disusun secara sistematis dan rapi.Untuk mempertahankan dan menjaga kepentingan jangka panjang hutan di Indonesia, sudah sepatutnya bila para penggarap pembohong yang menjadikan hutan sebagai ladang subur pembalakan efek jera.

Kepatutan dan kepantasan untuk menjadikan hutan sebagai aset seharusnya menjadi prioritas yang tidak terpisahkan dalam skema kerja eksekutif atau legislativ. Dengan azas itu, kemungkinan martabat hutan kita akan lebih terhormat dimata internasional, bukan sebaliknya hitam legam !. Persepsi bahwa pelestarian lingkungan di Indonesia masih karut marut, memang tidak dan tidak selamanya.

Tapi indikasi adanya perusakan lingkungan berupa hutan Mangrove, itupun bukan asal celoteh dan dan jeblak. Pasalnya, dalam konteks pelestarian lingkungan, persepsi Indonesia terlanjur disorot dunia internasional lantaran tersandung kasus illegal loging beberapa waktu lalu. Namun itu tidak otomatis membuat citra Indonesia terpuruk dan loyo serta letoy. Ambisi menyelamatkan bumi dari perusakan lingkungan sudah saatnya digalakkan, bukan sekedar basa-basi atau slogan kampanye. Apalagi, Desember 2007 lalu, tepatnya di Bali, Konvensi Perubahan Iklam digelar di ikuti sekitar 10 ribu orang dari 190 negara.

Konvensi ini membahas isu utama emisi gas rumah kaca dan salah satu solusi yang ditawarkan pemberian insentif untuk Negara pemilik hutan melalui perdagangan karbon. Dari Indonesia selalu tuan rumah mengemban misi meloloskan rencana skema karbon dari deforestasi dan degradasi (REDD). Misi ini mengatasi ketidakseimbangan sebagai upaya penjagaan penjagaan karbon di hutan dan tanah gambut.

Kini kita mengawasi kata untuk membicarakan keprihatinan tentang pelestarian hutan, misi yang seharusnya bisa menampilkan potret kebanggaan seakan kata buruk muka cermin dibelah. Apanya yang bisa dijual di Indonesia saat deru mesin tebang kayu melaju kencang dan perusakan lingkungan terus berlanjut? Dan sekian banyak hutan kita yang masih bisa diselamatkan dan disisakan oleh para perusak lingkungan? Memang terlampau lama kita menyadari, betapa kronisnya dan imunnya para perusak lingkungan hingga nyaris tak tersentuh oleh tangan hukum.

Mereka seperti gerombolan serigala yang siap menerkam siapa saja yang mencoba mengusik kenyamanan bisnisnya. Mereka berhak menggunduli hutan dan menguras isinya, tanpa sedikitpun rasa takut, mereka kerap berlindung di balik kepentingan masyarakat , bahwa penebangan dilakukan atas dasar permintaan penduduk lokal.

Perusak lingkungan, kini bukan lagi himpunan orang-orang yang cerdas, melainkan menjadi kumpulan para pesakitan, yang hidupnya patut dikasihani .. Lembaga wakil rakyat dan politikus, kini ramai - ramai membicarakan tentang lingkungan hidup, seakan baru yang terbangun dari tidur panjangnya. Tahun 2007 lalu, dari hotel berbintang hingga kubangan becek, go green dibicarakan tak ubahnya vitamin yang menyehatkan. Sehingga pejabat, selebriti bahkan politikus kurang genah dan afdol bila aksi go green -nya tidak diliput media, seakan khawatir disejajarkan sebagai orang yang terbelakang dan gagap soal lingkungan.

Kini sejarah mencatat bahwa pelestarian lingkungan bukan saja dibutuhkan, tetapi juga diperlukan. Tidak sesulit yang Anda bayangkan untuk menjadikan lingkungan putih bersih, tetapi bisakah kita menjaga dan melestarikannya seperti keinginan banyak orang? Menguatnya kepedulian lingkungan oleh banyak kalangan semakin membuktikan bahwa masalah lingkungan yang terhormat dibicarakan. Memang… (Samar)